Mangrove yang Selalu Menyenangkan
Akhirnya mencium aroma laut juga. Dalam kondisi mudik di kampung halaman tercinta Sukabumi, sebuah sms singkat dari seorang sahabat mengingatkan saya kalau udah hampir dua bulan saya tidak mancing ke laut. “Mang Mangrove yu…” demikian sms tersebut, singkat namun langsung memicu sebuah kerinduan akan panasnya pasir pantai membakar telapak kaki, semilir angin dan teriknya matahari membakar kulit. Tanpa berpikir lama langsung saja saya meminta SIM (Surat Ijin Mancing) dari istri tercinta dan setelah proses urusan SIM selesai langsung saya meluncur pulang ke Kota Bandung, alias balik duluan. (Sabtu 17 sept jam 4 sore dapet sms jam 10 malemnya saya udah di Bandung hehehehehe sakaw mode on).
Tujuan mancing kali ini memang bukan untuk mancing kelas berat. Namun demikian Hutan Mangrove Pamanukan adalah sebuah spot mancing yang selalu menjanjikan keceriaan. Jarang sekali terdapat ikan monster di sini. Namun ikan ikan berukuran table size selau ramai menanti para pemancing yang datang ke spot mancing yang lokasinya dekat dengan Pantai Pondok Bali Kabupaten Subang ini. Beragam jenis ikan seperti Ngangas (tompel/tanda tanda), Baronang, Kiper (ketang-ketang), Kerapu, Betotot, sembilang dan lain-lainnya terdapat banyak di tempat ini. Namun sertifikat atau tropi utama bagi pemancing di hutan manggrove ini tentu saja baramundi alias kakap putih. Jadi sebelum anda mendapatkan baramundi di tempat ini artinya anda belum lulus mancing di sini. Hahahaha sebuah tantangan yang menarik bukan? apalagi baramundi dikenal sebagai ikan bertenaga hebat yang sangat sulit di buru. (kapan saya lulusnya ya…???? )
Baru keluar pintu tol Pasir Koja saya langsung di jemput oleh seorang BATman Satria NB alia Iyo dan langsung diculik ke rumahnya yang juga menjadi meeting point trip kali ini. Sekitar pukul 11 berkumpullah para BATman yang lain; Candra Sonjaya, Ary Sanjaya, Hary fitriana, dan Agie. Setelah berbincang bincang kami memutuskan untuk memejamkan mata sejenak untuk mengumpulkan tenaga. jam keberangkatan disepakati tepat pukul 4 subuh.
So… The trip is begin. Setelah menempuh perjalanan hampir 3 jam sampailah kami di tempat pemberangkatan kapal mancing manggrove pamanukan. Tanpa basa basi langsung saja kami menaiki perahu Pak Sadi yang memang sudah dipesan sebelumnya. Berbekal udang sebanyak 3 kilo langsung saja kami menuju spot pertama yaitu lokasi yang disebut nelayan setempat batu. Ternyata “Batu” berada si sekitar 500 meter lepas pantai dari pantai pondok bali. Butuh sekitar 15 menit untuk mencapai spot ini.
Sesampainya di spot tanpa basa basi langsung saja kami menyiapkan peralatan dan melemparkan umpan. Tekhnik yang dipakai di spot ini adalah dengan menggunakan pelampung. karena dengan teknik jebluk biasa kail dijamin akan sering nyangkut. Jadi dengan pelampung kemungkinan nyangkut di karang bisa dieliminir sekecil mungkin. Rangkaiannya cukup mata kail dan pelampung yang diberi jarak sekitar satu meter. Tambahkan timah pemberat seperlunya supaya udang cepat tenggelam namun tidak membuat pelampung tenggelam.
Baru saja lempar Strike langsung terjadi. Kali ini Kehormatan untuk merasakan first strike di dapat oleh Hary Fitriana (Selanjutnya kita sebut HF saja karena kadang ketuker ama nama saya sendiri euy ). Tidak butuh waktu lama buat HF mendaratkan ikan. Seekor Tompel lansung saja menjadi korban kami kali ini. Selanjutnya strike demi strike terjadi tanpa henti dialami semua teman teman kecuali saya. ARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHH
(.
Aneh sekali sementara para BATman yang lain bergantian mengangkat ikan saya hanya bisa melongo sendirian . Bayangkan saja sementa pelampung yang lain mudah sekali menghilang ditarik ikan, pelampung sayah hanya bisa diam tak bergerak dan ketika diangkat si udang yang di jadikan umpan seperti tersenyum meledek. “Napa bos??? Sayah masih sehat sehat saja neh.” demikian mungkin si udang ngeledek dalam bahasanya. Alhasil dengan tekhnik pelampung saya hanya merasakan strike 2 kali dan itu pun kedua-duanya mocel akibat tidak terjadi hook up sempurna. AAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGHHHHHHHHHH:(
(.
Setelah diamati sedemikian rupa ternyata di sekitar perahu terdapat banyak ikan kiper (ketang-ketang) yang berkeliaran. Melihat situasi ini sebuah ide pun langsung menyala di kepala saya. Tanpa basa basi saya simpan arsenal berat saya dan saya ganti dengan………………… Joran Untuk Mancing Beunteur ). Ukuran kailpun saya sesuaikan dengan ukuran mulut ikan kiper yang sangat imut imut hahahahaha.
Dan ternyata sebuah sensasi dahsyat akhirnya saya rasakan.
Bayangkan saja dengan joran benteur yang super lentur tentunya perlawanan ikan kiper yang termasuk keluarga besar baronang ini sangat terasa. Damn its feel so good. Untuk menaklukan kiper ukuran 3 jari saja joran yang saya pakai bisa membentuk hurup U sempurna. Satu persatu kiper saya angkat dan perolehannya bisa menyusul perolehan ikan BATman yang lain. Apalagi dalam sebuah kesempatan ternyata sang kiper tidak berhenti melawan. Dalam pikiran saya wah kipernya pasti jumbo neh. Dengan sabar saya ladeni perlawanan ikan dan akhirnya semua orang yang ada diperahu terpana. Ternyata yang menyambar umpan adalah seekor baronang angin berukuran 5 jarian. Waw… Its Amazing jejeur beunteur meladeni baronang lima jari…. Mantap sekali.
Sementara yang lain asyik dengan tompel, kerapu saya asik terus dengan kiper. Satria malah terus menerus strike kerapu. Emang sih BATman yang satu ini emang cukup fokus juga memperhatikan pelampung. Ukuran kerapu yang didapatnya juga cukup lumayan. Sementara untuk rekor ukuran ikan di pegang oleh Candra denga tompel sekitar lima jarian Ukurannya sama denga baronang yang saya dapet… pake joran benteur lagi ). Sementara HF, Ary dan Agie juga mendapatkan ikan cukup banyak juga.
Sekitar 3 jam kami bertahan di spot batu ini. setelah frequensi strike sudah semakin jarang barulah kami memutuskan untuk masuk ke wilayah hutan mangrove. Sebelumnya kami beristirahat dulu di gerbang masuk ke hutan manggrove yang ternyata sudah menjadi tempat wisata dadakan. Sebuah saran bagi yang mau berkunjung ke sini usahain jangan jajan di warung yang ada di tempat istirahat ini harganya asli irasional…. alias mahal bgt.
Sambil istirahat Iyo sempat mencoba peruntungan dengan casting di seputaran pohon mangrove di belakang tempat kami istirahat. Sayang sekali ikan di sini memang masih belum mau menyambar lure Iyo. Bahkan ketika candra mencoba pun hasilnya tetap sama.
Di Spot berikutnya yang berupa sebuah pertigaan muara kami kembali memancing. Sayang sekali di spot ini jarang sekali strike terjadi. Apalagi kalau memakai udang hidup yang utuh jarang sekali ikan mau menyentuhnya. Namun ditempat inilah kembali joran benteur saya menunjukan kesaktiannya. tidak berhenti henti kiper, betotot dan ikan ikan lainnya yang ukurannya emang mini berhasil di saya panen. Kecuali Kiper emang ikan ikan di spot ini ukurannya mini bgt, tapi kata Iyo sih kalau udah digoreng kering ukuran jadi gak masalah. Bener bro… sepakat deh.
Melihat kondisi ini akhirnya BATman yang lain pun goyah iman mereka. Akhirnya Iyo, Candra, Ary, HF kecuali Agie, mengganti ukuran kail yang dipakai. Terjadilah Kiper Vaganza. Satu demi satu ikan kiper terangkat oleh kami. Bahkan HF menunjukan kesaktiannya dengan mancing kiper dengan tekhnik handline. Mantab emang si bapak yang bobot badannya mampu mematahkan papan dasar perahu ini ternyata kreatif sekali. Papan Perahu??? Yup sedikit terlewat. Kali Ini pak sadi ternyata harus menerima dan pasrah dua belah papan perahunya jebol akibat tidak mamapu menahan beban badan HF. (sabar pak sadi… tenang OM HF bayar…. ). Di Spot ini juga HF berhasil mendaratkan seekor rajungan berukuran lumayan yang menurutnya akan dimasak bumbu saus tiram setibanya di rumah nanti.
Sementara Agie tetap konsisten dengan mata kail besar dengan umpan udang utuh yang tetap utuh sampai saat ditarik kembali . Kalau saya liat kayaknya sih bukan masalah Agie mau ganti atau tidak deh. Cuma BATman yang katanya masih baru dalam hal memancing ini kayaknya kagok untuk dibuatkan riging ikan kecil kepada teman yang lain. Maklum ini trip pertama Agie bersama para BATman. Tapi kayaknya hal ini gak boleh terulang. Lain kali jangan sunkan untuk minta bantuan Gie.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Ratusan ekor ikan berhasil kami taklukan. Akhirnya saatnya pulang. Sayang sekali sang “tropi” saat ini gagal kami dapatkan. Namun ini bukan berarti kegagalan. Saya lebih merasa sengaja menyisakan baramundi untuk trip berikutnya saja hehehehe. Size is No Matter. But Its Fun Its FIsh Its Brotherhood. Rasanya tidak perlu lama bagi saya untuk kembali ke spot ini’
salam strike
Hary Buana
Please Enjoy The Pic…
No comments:
Post a Comment