Kalau mancing seminggu sekali mah sama atuh masbro bei….
Tapi kalau masbro bei
Saya bener bener seminggu sekali nyetor terus……
Best Regards,
H3NDR4 Kusuma
From: mancing_ikan@yahoogroups.com [mailto:mancing_ikan@yahoogroups.com] On Behalf Of mas bei
Sent: Thursday, March 24, 2011 8:45 AM
To: mancing_ikan@yahoogroups.com
Subject: Bls: [MANCiNGiKANMaS] Pantes harga ikan mas sekarang mahal...
getu ya mas hend, saya sudah beberapa bulan ini mancing seminggu sekali, ipun kalo ada yg ditumpangi kalo tidak ya sudah di rumah saja! nunggu uang pensiun dari mancing kagak keluar2 neh!
Dari: "Kusuma, Hendra" <hendra.kusuma@nielsen.com>
Kepada: mancing_ikan@yahoogroups.com
Terkirim: Kam, 24 Maret, 2011 08:37:03
Judul: [MANCiNGiKANMaS] Pantes harga ikan mas sekarang mahal...
Informasi yang dihimpun Kompas.com menyebutkan, setidaknya 5.000 kerambah jaring apung memenuhi aliran sungai yang melintasi Desa Bongas, Kecamatan Cililin, di tahun 1990 -an. Sekitar 20 ton ikan dihasilkan setiap hari untuk dipasarkan di kota-kota di sekitar Bandung.
"Dulu sungai penuh dengan jaring ikan sampai kita susah melintas. Sekarang tidak sampai 10 persen yang masih bertahan. Sisanya sudah pindah profesi," ungkap Sugianto (38), mantan pembudi daya, Rabu (23/3/2011).
Sugiarto menjelaskan, saat ini, pembudi daya harus memindah-mindahkan kerambah dengan perahu jika air surut. Semakin lama, kata dia, debit air yang mengalir semakin menurun. Kemudian, berbagai limbah dari Sungai Citarum masuk ke Sungai Saguling setiap awal tahun.
"Limbahnya tidak kelihatan tapi mengendap di bawah sungai. Waktu musim hujan, terjadi arus balik ke Sungai Citarum. Endapan dibawah itu naik ke atas. Ikan mati lah," tutur pria yang pernah memiliki 30 kolam ikan itu.
H. Ridwan (44), salah satu pembudi daya yang masih aktif mengemukakan, akibat limbah maupun virus, minimal 25 persen ikan pasti mati dalam sekali tebar benih. Jika air sangat tercemar, seluruh ikan akan mati. Kerugian bisa mencapai belasan juta rupiahn hingga puluhan juta rupiah dalam setiap kolam.
"Dulu saya punya 20 kolam terisi semua. Sekarang yang diisi ikan cuma enam atau tujuh kolam saja, yang lain kosong. Dulu satu kolam bisa panen tiga ton buat suplai ke
Penyuplai pakan terimbas
Dorongan bagi pembudi daya untuk beralih profesi dari tahun ke tahun berimbas pada agen maupun pengecer pakan ikan. Menurut Ridwan, dari puluhan pengecer pakan yang biasa mengambil barang dari perusahaan milik keluarganya, kini tinggal satu pengecer yang masih bertahan di Saguling.
"Dulu bisa laku 100 ton sampai 200 ton pakan sebulan. Sekarang cuma 30 ton sampai 50 ton. Itu pun banyak dipakai untuk sendiri. Apalagi harga pakan terus naik. Sekarang pembudi daya menyiasati dengan memberi makan roti bekas, mie instan bekas, yang harganya lebih murah," paparnya.
Best Regards,
H3NDR4 Kusuma
------- SAVE THE BANDWIDTH --------
Pada saat me-reply harap hapus e-mail yang tidak diperlukan atau sudah terkirim.
---- No Ads - Ads means Banned ----
----MANCiNGiKANMAS----
http://www.geocities.com/mancingikan/
http://www.geocities.com/mancing_galatama/
No comments:
Post a Comment